Jumat, 28 Januari 2011

PROFILE ITIK




























Sistem Informasi Pola Pembiayaan/
Lending Model Usaha Kecil

USAHA ITIK PETELUR
(POLA PEMBIAYAAN SYARIAH)

PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Usaha ternak itik petelur mempunyai potensi yang besar untuk dikembangkan di daerah dengan kondisi alam tropis seperti di Indonesia. Peternakan itik petelur membutuhkan sumber protein yang lebih sedikit dibandingkan dengan peternakan ayam petelur. Dengan demikian usaha ternak itik petelur menjanjikan peluang keuntungan yang lebih besar dibandingkan dengan usaha ternak ayam pedaging.

Kisah sukses usaha ternak itik petelur di Desa Kroya, Kecamatan Kapetakan, Kabupaten Cirebon seperti dikemukakan dalam SINAR TANI Edisi 11/17 Juli 2001 telah mampu meningkatkan kemakmuran para peternak itik petelur. Dikemukakan juga bahwa peternak, yang menghasilkan itik umur satu hari (DOD) berhasil memperoleh pendapatan hingga mencapai rata-rata sekitar Rp. 7.000.000 per bulan.

Dengan demikian ternak itik petelur dapat dijadikan sebagai usaha unggulan bagi rakyat Indonesia. Sedikitnya terdapat tiga alasan utama, mengapa usaha ternak itik petelur dijadikan sebagai usaha unggulan, yaitu:
  1. Usaha ternak itik petelur merupakan jenis usaha yang sudah dikenal secara luas oleh rakyat Indonesia.
  2. Usaha ternak itik petelur membutuhkan pakan (khususnya protein) yang lebih efisien dibandingkan dengan usaha ternak ayam pedaging.
  3. Usaha ternak itik petelur telah terbukti mampu memberikan pendapatan yang relatif besar.
 
 
 
 
TUJUAN
Tujuan dari penyusunan pola pembiayaan ini adalah:
  1. Menyediakan rujukan bagi perbankan dalam rangka meningkatkan realisasi kredit usaha kecil, khususnya bagi pengembangan usaha itik petelur.
  2. Menyediakan informasi dan pengetahuan untuk mengembangkan usaha itik petelur terutama tentang aspek keuangan, produksi, dan pemasaran.
Ruang lingkup dari studi ini meliputi:
  1. Komoditi yang akan diteliti dalam kajian ini adalah itik petelur di Daerah Mataram Propinsi Nusa Tenggara Barat dengan jenis Itik Mojosari.
  2. Aspek-aspek yang diteliti dalam pola pembiayaan usaha itik petelur adalah :
    1. Aspek pemasaran meliputi antara lain kondisi permintaan yaitu pasar domestik dan ekspor, penawaran, persaingan, harga, proyeksi permintaan pasar dll,
    2. Aspek Produksi meliputi gambaran komoditi, persyaratan teknis produk, proses pengolahan dan penanganannya,
    3. Aspek Keuangan meliputi perhitungan kebutuhan biaya investasi, dan kelayakan keuangan. Perhitungan kelayakan keuangan menggunakan analisis yang disesuaikan dengan jenis usaha yang dapat meliputi rugi laba, cash flow, net present value, pay back ratio, benefit cost ratio dan internal rate of return, termasuk analisa sensitivitas,
    4. Aspek Sosial Ekonomi meliputi pengaruh pengembangan usaha komoditi yang diteliti terhadap perekonomian, penciptaan lapangan kerja dan pengaruh terhadap sektor lain, dan
    5. Aspek Dampak Lingkungan
  METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan dengan mengadakan survei di wilayah yang selama ini mempunyai potensi pengembangan usaha ternak itik petelur cukup baik, yaitu di Kota Mataram, Propinsi Nusa Tenggara Barat.
Survei lapang dilakukan untuk memperoleh data sebagai berikut:
  1. Data primer dari pengusaha kecil (peternak itik petelur);
  2. Data sekunder dari perbankan umum dan instansi terkait (Dinas Peternakan, dan BPS Kota Mataram);
  3. Tokoh masyarakat setempat (tokoh formal dan tokoh informal).
Atas hasil pengumpulan data tersebut di atas selanjutnya dilakukan analisa atas hal-hal sebagai berikut:
  1. Analisa usaha, dilakukan untuk mengetahui bagaimana pengaruh komoditi yang diteliti dilihat dari aspek-aspek pemasaran, produksi, sosial-ekonomi, dan dampak lingkungannya;
  2. Analisa pembiayaan, dilakukan untuk mengetahui bagaimana pembiayaan proyek dan kelayakan usaha dilihat dari aspek keuangannya.
Untuk kepentingan pengumpulan dan analisa data tersebut di atas, sampel usaha kecil di wilayah penelitian diambil secara purposive dengan persyaratan bahwa usaha kecil tersebut yang paling banyak terdapat di wilayah studi, dengan mengutamakan mereka yang mendapat kredit bank untuk usaha taninya.
 
PROFIL USAHA DAN POLA PEMBIAYAAN
Usaha ternak itik petelur biasanya dilaksanakan secara tradisional. Sebagai contoh di Propinsi Nusa Tenggara Barat, sebagian besar atau bahkan hampir 60% adalah peternak itik tradisional. Ciri peternak itik tradisional pada umumnya digembalakan dengan makanan seluruhnya diperoleh waktu digembalakan, kandang seadanya tanpa kolam dan tidak mengenal penanganan kesehatan sama sekali. Sedangkan bentuk pemeliharaan itik petelur lainnya adalah semi intensif dan intensif. Perbedaan pemeliharaan itik petelur tradisional, semi intensif dan intensif dapat dilihat pada Tabel 2.1
Tabel 2.1.
Perbedaan Pemeliharaan Itik secara Tradisional, Semi Intensif dan Intensif
Tradisional
Semi intensif
Intensif
Digembalakan
Sekali-kali digembalakan
Tidak digembalakan
100% makanan dari penggembalaan
50% makanan buatan50 % dari penggembalaan
100% makanan buatan
Kandang seadanya, tanpa kolam
Kandang dilengkapi kolam
Kandang sistem kering seperti ayam ras
Tanpa penggunaan obat dan vaksin
Kadang ada pengobatan dan vaksinasi
Penggunaan obat dan vaksin secara intensif
Sumber: Suharno dan Setiawan (2001)
Dari Tabel 2.1 tersebut di atas tampak pemeliharaan itik petelur cara semi intensif merupakan peralihan dari tradisional menuju intensif. Tampak pula pemeliharaan itik petelur intensif memerlukan sarana dan prasarana yang relatif besar dibandingkan dengan beternak itik petelur tradisional. Sebagai contoh, dalam pemeliharaan itik petelur intensif diperlukan makanan buatan 100 persen, karena itik tidak pernah digembalakan dan begitu pula halnya dengan pembuatan kandang yang lebih baik serta pencegahan terhadap penyakit. Tabel 2.2 memperlihatkan kelebihan dan kekurangan pemeliharaan itik petelur tradisional dan intensif.
Tabel 2.2.
Kelebihan dan Kekurangan Pemeliharaan Itik Petelur secara Tradisional dan Intensif
Aspek Kegiatan
Tradisional
Intensif
1. Investasi yang dibutuhkan
Rendah
Tinggi
2. Teknologi yang dipakai
Mudah
Sulit
3. Efisiensi tenaga kerja
Rendah
Tinggi
4. Produktivitas pekerja
Sangat rendah
Lebih tinggi
5. Efisiensi lahan
Rendah
Tinggi
6. Penanggulangan penyakit
Sulit
Mudah
7. Pengembangan usaha
Sulit
Mudah
Sumber: Wasito dan Siti Rohani (1994) dalam Suharno dan Setiawan (2001)
Dari berbagai aspek yang dibahas pada Tabel 2.2, aspek investasi dan teknologi merupakan faktor kunci yang membuat peternak memilih cara pemeliharaan itik petelur tradisional. Pemeliharaan tradisional memerlukan modal rendah dan teknologi lebih mudah dibandingkan dengan pemeliharaan itik petelur intensif. Namun apabila modal untuk investasi tersedia dan teknologi mampu dikuasai, maka dipastikan peternak memilih pemeliharaan itik petelur intensif. Dengan pemeliharaan itik petelur intensif, akan diperoleh kelebihan-kelebihan yang sangat diperlukan dalam keberhasilan usaha.

Beberapa aspek penting yang merupakan kelebihan pemeliharaan itik petelur intensif adalah efisiensi tenaga kerja dan produktivitas pekerja yang lebih tinggi serta penanggulangan penyakit yang lebih mudah dibandingkan dengan pemeliharaan itik petelur tradisional. Kelebihan-kelebihan ini tentunya akan menghasilkan biaya produksi pemeliharaan intensif yang lebih rendah dibandingkan dengan pemeliharaan tradisional dan pada akhirnya pemeliharaan itik petelur intensif akan lebih menguntungkan daripada pemeliharaan itik petelur tradisional.

Pemeliharaan itik petelur selama ini masih didominasi oleh cara tradisional dengan pembiayaan bersumber dari pribadi dan berdasarkan pengamatan masih sedikit sekali yang memanfaatkan jasa perbankan untuk menambah modalnya. Peternak itik petelur dengan pemeliharaan semi intensif dan intensif selama ini belum memperoleh pembiayaan dari bank. Para peternak itik petelur semi intensif baru mendapatkan pembiayaan program P4K (Program Peningkatan Pendapatan Petani Kecil) dan KPKU (Kredit Pengembangan Kemitraan Usaha), yang merupakan program (kredit program). Namun diperoleh informasi terdapat peternak itik petelur yang mengajukan pembiayaan dari bank umum (komersial).
 
ASPEK PEMASARAN
PERMINTAAN
Pemeliharaan itik petelur akan menghasilkan telur untuk konsumsi dan juga faeces (kotoran) yang berguna untuk pupuk. Telur untuk konsumsi diperdagangkan dalam bentuk segar dan olahan. Telur asin adalah merupakan bentuk olahan dari telur itik yang diperdagangkan di Indonesia. Subsititusi telur itik adalah telur ayam (ayam kampung dan ayam ras). Ternyata kandungan telur itik ditinjau dari kandungan lemak, protein, kalsium, besi dan Vitamin A per butirnya lebih tinggi dibandingkan dengan kandungan telur ayam.

Hanya kandungan kalori telur itik lebih rendah dibandingkan dengan telur ayam. Dengan demikian kandungan nilai gizi telur itik secara umum lebih tinggi dibandingkan dengan telur ayam. Perbandingan nilai gizi telur itik dan telur ayam dapat dilihat dalam Tabel 3.1 di bawah ini.



Tabel 3.1. Nilai Gizi Telur Itik dan Telur Ayam Per 100 Gram Telur

Jenis Telur
Kalori (kkal)
Lemak (g)
Protein (g)
Kalsium (mg)
Besi (mg)
Vit.A(SI)
Telur itik
163
14.3
13.1
56
2.8
1 230
Telur ayam
189
11.5
12.8
54
2.7
900
Sumber: Direktorat Gizi, Departemen Kesehatan (1972) dalam Suharno dan Amri (2000)
Berdasarkan kenyataan yang ada saat ini, perkembangan permintaan terhadap telur itik selalu meningkat dari tahun ke tahun (Suharno dan Amri, 2000 dan Windhyarti, 2000). Sebagian besar konsumen telur itik adalah penduduk di kota-kota besar. Disamping untuk konsumsi rumah tangga, konsumen lainnya yang sangat potensial adalah restoran, rumah makan, kapal-kapal laut, rumah sakit, asrama-asrama, perusahaan-perusahaan tertentu, dan juga konsumen jamu.
Jumlah permintaan secara nyata sulit untuk diketahui (Suharno dan Amri, 2000). Namun, Suharno dan Amri (2000) telah melakukan penelitian dibeberapa kota sebagai berikut: Bogor dengan jumlah permintaan 230.000 butir per bulan (Mei 1994), DKI Jakarta dengan jumlah permintaan 1.716.000 butir per bulan (Mei 1994), dan Tegal dengan jumlah permintaan 230.000 butir per bulan (1992).
Ilustrasi jumlah permintaan di tiga kota tersebut di atas tentunya hanya merupakan sebagian kecil saja jika dibandingkan dengan jumlah kota dan kabupaten yang lebih dari 300. Segi potensial dari permintaan telur itik adalah adanya kecenderungan sebagian orang yang menganggap telur itik lebih berkhasiat untuk campuran jamu godokan dibanding dengan telur ayam. Begitu juga untuk pembuatan martabak, disebutkan telur itik mutlak diperlukan dan bahkan ada yang berpendapat tidak dapat digantikan dengan telur ayam.

Sebagai informasi tambahan, selain untuk dikonsumsi, telur itik juga dipergunakan oleh industri. Industri yang mempunyai kecenderungan untuk menggunakan telur itik adalah industri kosmetik dan farmasi. Bahkan, telur itik mempunyai potensi besar untuk dijadikan tepung telur.

Gambaran permintaan telur itik nasional tidak diperoleh. Namun, tersedia data pengeluaran per kapita per bulan untuk susu dan telur penduduk Indonesia yang dikumpulkan oleh Badan Pusat Statistik, data tersebut dapat dipergunakan sebagai
"proxy" atau dugaan bagi permintaan telur itik nasional. Tabel 3.2 berikut menunjukkan pengeluaran rata-rata per kapita per bulan untuk susu dan telur penduduk Indonesia.

Dari Tabel 3.2 di atas tampak bahwa pengeluaran per bulan untuk telur dan susu tahun 1993, 1996 dan 1999 selalu meningkat. Namun, meskipun pengeluaran tersebut dalam rupiah selalu meningkat tajam, persentasenya terhadap pengeluaran relatif stabil.
Tabel 3.2.
Pengeluaran Rata-Rata Per Kapita Per Bulan untuk Telur dan Susu Penduduk Indonesia
Tahun
Pengeluaran (Rp)
Pengeluaran (%) *
1993
1.264
2,90
1996
2.070
2,96
1999
4.004
2,91
*) Persentase terhadap total pengeluaran
Sumber : BPS (2000)
 
ASPEK PEMASARAN
PENAWARAN
Populasi Itik di Indonesia dalam tiga tahun terakhir relatif tidak stabil. Jumlah populasi itik (dalam ribu ekor) tahun 1997, 1998 dan 1999 adalah berturut-turut 30.320, dan 25.950 dan 26.254. (BPS, 2000) Tabel 3.3 menunjukkan populasi itik dimasing-masing propinsi di Indonesia.
Tabel 3.3.
Populasi Itik Masing-Masing Propinsi di Indonesia Tahun 1997 - 1999 (dalam 000)
No
Propinsi
Tahun
1997
1998
1999
1
Nangroe Aceh Darussalam (NAD)
3.399,2
3.418,9
3.438,7
2
Sumatra Utara
2.265,3
2.129,5
2.254,5
3
Sumatra Barat
1.659,0
1.676,8
1.694,7
4
Riau
270,4
274,5
278,6
5
Jambi
552,1
632,3
723,8
6
Sumatra Selatan
1.705,1
1252
1302
7
Bengkulu
654,8
229,2
80,2
8
Lampung
387,8
418,3
439,2
9
D.K.I Jakarta
50,0
61,5
70,8
10
Jawa Barat
3.603,4
2.905,9
2938
11
Jawa Tengah
3.781,2
3.781,2
3.507,8
12
D.I. Yogyakarta
231,8
202,1
210
13
Jawa Timur
2.986,2
2.252,5
2.286,3
14
Bali
713,3
534,2
539,5
15
Nusa Tenggara Barat
594,1
382,6
388,3
16
Nusa Tenggara Timur
161,2
183,0
191,7
17
Kalimantan Barat
326,1
264,3
420,8
18
Kalimantan Tengah
147,4
153,8
154,9
19
Kalimantan Selatan
3.116,3
1.497,3
1.610,1
20
Kalimantan Timur
324,2
227,7
230,4
21
Sulawesi Utara
417,6
417,6
426
22
Sulawesi Tengah
145,3
148,2
151,8
23
Sulawesi Selatan
2.322,3
2.308,5
2.384,9
24
Sulawesi Tenggara
262,4
273,7
279,1
25
Maluku
109,4
121,4
135,7
26
Irian Jaya
105,6
110,9
116,5
Sumber : Direktorat Jenderal Peternakan

Daerah sentra ternak itik (yang memiliki sekurang-kurangnya 1 juta ekor itik) di Indonesia adalah propinsi-propinsi: Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Barat. Dengan demikian masih tersedia peluang bagi propinsi lain untuk mengembangkan ternak itik.
 
ASPEK PEMASARAN
PEMASARAN PRODUK
Perkembangan harga telur itik relatif stabil. Harga telur itik mengalami lonjakan musiman, yaitu pada saat menjelang hari-hari besar seperti Hari Raya Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru. Pada waktu tersebut jumlah permintaan melonjak, namun penawaran (jumlah produksi) relatif stabil sehingga mengakibatkan kenaikan harga rata-rata sekitar 10%.

Tingkat persaingan peternak itik di daerah survei (Propinsi Nusa Tenggara Barat) relatif rendah. Dengan demikian peluang pasar masih terbuka untuk para peternak baru. Diperoleh keterangan bahwa ada permintaan untuk sejumlah 5000-an butir telur per hari dari super market terkenal, namun hal ini masih sulit untuk dipenuhi. Sedangkan data ekspor telur itik dari Indonesia hingga saat ini belum tersedia. Data ekspor tersedia untuk telur unggas dan berbagai produk olahannya. Tujuan ekspor adalah Negara Singapura, Saudi Arabia, Hongkong, Amerika Serikat dan Malaysia (Data selengkapnya dalam
Lampiran 1.)

Sebagian besar telur itik yang dihasilkan oleh peternak dibeli oleh pedagang pengumpul. Dengan demikian dapat dikatakan tidak dikeluarkan biaya pemasaran oleh para peternak. Selanjutnya para pedagang pengumpul tadi menjual telur itik kepada pembeli berikutnya dan selanjutnya dijual kembali untuk langsung dikonsumsi dan sebagian lagi diolah untuk menjadi telur asin.

Pemasaran telur itik selama ini belum menunjukkan fluktuasi produksi yang besar. Hal ini menunjukkan bahwa kendala pemasaran belum dijumpai.
 
ASPEK PRODUKSI
LOKASI USAHA DAN FASILITAS PRODUKSI
Lokasi usaha peternakan itik petelur dapat dilaksanakan hampir di semua jenis lokasi. Lokasi peternakan itik dilaksanakan didekat pantai, di pegunungan, di tempat yang terlindung matahari, di tempat terbuka dan terkena panas matahari penuh, daerah berbatu-batu dan berumput. Bahkan dalam keadaan apapun itik dapat hidup (Windhyarti, 2000). Dengan demikian itik dapat hidup hampir di seluruh lokasi.

Akan tetapi, hal yang harus diperhatikan adalah masalah lingkungan. Itik tidak cocok untuk hidup di daerah yang bising, seperti lapangan terbang dan lapangan tembak. Begitu juga tempat yang ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor atau tempat yang gaduh, lingkungan ini tidak cocok untuk itik.
Keadaan ini akan membuat itik menjadi stress sehingga malas untuk bertelur. Dengan demikian itik dapat hidup di lokasi manapun asal tidak berisik dan aman dari lalu lalang orang atau kendaraan. Selain itu, perlu juga dipertimbangkan sebaiknya lokasi peternakan itik tidak terlalu dekat dengan pemukiman penduduk, karena ternak itik (dan ternak pada umumnya) mengeluarkan bau dan debu.

Untuk memelihara itik petelur diperlukan kandang. Kandang terbuat dari bahan tahan lama dan tersedia di lokasi dengan harga semurah mungkin. Sebagai salah satu alternatif, dapat pula dipergunakan bahan bekas namun berkualitas tinggi.

Berdasarkan pengalaman yang dijumpai di lapangan, bahan yang tersedia, kuat dan murah adalah bambu yang cukup tua. Bambu dapat dipergunakan untuk kerangka bangunan, pagar dan lantai. Selain dari bambu, lantai kandang dapat berupa tanah biasa, di semen, atau diberi batu-batu. Lantai kandang yang terlindung sebaiknya diberi alas jerami, sekam, serbuk gergaji atau bahan lainnya. Sedangkan atap bangunan kandang dapat dipergunakan bahan dari alang-alang, ijuk, rumbia, genteng, lembaran plastik atau bahan lainnya.

Peralatan yang diperlukan di dalam kandang adalah tempat pakan dan tempat minum. Kedua jenis peralatan tersebut dapat terbuat dari plastik, kayu atau bahan lainnya.
Selain itu, diperlukan juga sapu, sekop dan alat lainnya untuk membersihkan kandang.
  ASPEK PRODUKSI
BAHAN BAKU
Pemeliharaan itik petelur membutuhkan bahan baku bibit, pakan dan obat-obatan. Pemilihan bibit harus dipertimbangkan secara baik, karena bibit ini merupakan keputusan awal yang akan berpengaruh pada tahap-tahap pemeliharaan berikutnya. Beberapa jenis bibit unggul itik petelur yang dijumpai di pasar adalah sebagai berikut:
  • Itik Tegal
  • Itik Mojosari
  • Itik Alabio
  • Itik Bali
  • Itik BPT KA
Bibit unggul tersebut memiliki kemampuan yang berbeda dalam menghasilkan telur baik jumlah telur yang dihasilkan per tahun maupun rata-rata berat telur dapat dilihat dalam Tabel 4.1. Tampak bahwa jenis itik Mojosari menghasilkan jumlah telur per tahun tertinggi (200-265 butir), dengan bobot per butirnya juga tinggi (70 gr). Urutan berikutnya adalah jenis itik Tegal yang menghasilkan jumlah telur per tahun 150-250 butir dengan bobot per butir antara 65 - 70 gram.
Tabel 4.1.
Kemampuan Produksi Telur dan Bobot Beberapa Jenis Itik Petelur Unggas.
Jenis Itik
Jumlah Telur
(butir-Tahun)
Bobot Telur
(gram/butir)
Itik Mojosari
200-265
70
Itik Tegal
150-250
65-70
Itik Alabio
130-250
65-70
Itik Bali
153-250
59-65
Itik BPT KA
274
70
Sumber: Suharno dan Amri (2000 diolah)
Selanjutnya sarana produksi lainnya yang dibutuhkan yaitu pakan dan obat-obatan. Jenis pakan adalah: starter (untuk anak itik), grower (untuk itik dara) dan layer (untuk itik dewasa). Ketiga jenis pakan ini dapat dengan mudah dibeli di toko. Pakan ini dapat dibuat sendiri dengan alternatif bahan-bahan yang paling murah dan mudah diperoleh di sekitar lokasi usaha. Adapun bahan alternatif pakan ternak itik adalah jagung kuning, dedak/bekatul, tepung ikan, tepung daging bekicot, tepung tulang, tepung kerang, bungkil kelapa, tepung gaplek, tepung daun pepaya, tepung daun turi, dan tepung daun lamtoro. Komposisi bahan-bahan tersebut tergantung pada jenis pakan yang akan dibuat.

Obat-obatan dibutuhkan karena untuk mendapatkan produksi yang baik dan bermutu tinggi, salah satunya adalah ternak harus sehat. Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban peternak untuk menjaga agar itik petelur terhindar dari segala macam serangan penyakit. Cara terbaik untuk menghindar dari serangan penyakit adalah dengan memelihara itik dalam kandang yang memadai, baik sanitasi maupun luasannya, selain pakan yang mencukupi jumlah, nilai gizi, dan kesegarannya. Berdasarkan pengalaman, vaksinasi yang perlu diberikan pada itik adalah vaksinasi untuk mencegah penyakit fowl cholera atau duck cholera. Sedangkan penyakit yang dapat menyerang unggas (umumnya) adalah virus, bakteri, dan parasit (cacing, protozoa, dan kutu). Beberapa penyakit itik terpenting adalah: coccidiosis, coryza, infeksi salmonella, lumpuh, dan kolera.
 
ASPEK PRODUKSI
TENAGA KERJA & TEKNIS BUDIDAYA
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk beternak itik petelur relatif tidak besar. Sebagai contoh, untuk memelihara sejumlah 100 ekor itik, biasanya dilakukan oleh suami dan istri, dimana suami yang menyediakan pakan dan istrinya yang memelihara dan memberikan pakan. Sedangan untuk jumlah mulai 300 ekor, diperlukan tenaga kerja khusus yang menangani ternak itik petelur. Tenaga kerja ini hendaknya mempunyai keterampilan untuk membersihkan kandang, membuat pakan dan menanggulangi penyakit. Tenaga kerja biasanya berasal dari penduduk lokal.

Dalam beternak itik, tidak dikenal tingkat teknologi, melainkan cara pengusahaannya. Cara pengusahaan ternak itik petelur, sebagaimana sudah dikemukakan dalam Bab 2, terbagi atas tiga jenis, yaitu tradisional, semi intensif dan intensif. Peternakan itik tradisional menerapkan teknologi paling sederhana, sedangkan semi intensif dan intensif menerapkan teknologi lebih tinggi. Teknologi dalam kaitan ini misalnya dalam pengolahan pakan dan penanggulangan penyakit.

Tahapan produksi itik petelur adalah dimulai dari pembibitan, penetasan, pemeliharaan mulai dari anak itik berumur satu hari (DOD-day old duck), dara, hingga dewasa (mulai bertelur), hingga akhirnya afkir. Peternak itik petelur dapat melakukan kegiatan usahanya dari mulai penetasan, dari DOD atau dari dara.
 
ASPEK PRODUKSI
PRODUKSI DAN KENDALA PRODUKSI
Mutu telur itik dibedakan berdasarkan penilaian terhadap kulit telur, kantong udara pada telur, putih telur dan kuning telur. Telur itik biasanya dibedakan mutunya berdasarkan berat, > 65 gr (besar), berat 60 - 65 gr (sedang) dan < 65 (kecil).

Seperti telah diuraikan dalam Bab 2, cara pengusahaan ternak itik petelur masih didominasi oleh cara tradisional. Hingga saat ini belum dilakukan studi skala usaha optimum untuk peternakan itik petelur. Akan tetapi, berdasarkan pengamatan di lapang, dapat diajukan suatu skala usaha tradisional adalah dari puluhan hingga 200 ekor.
Sedangkan untuk skala usaha semi intensif antara 300 hingga di bawah 900 ekor. Sedangkan pada skala usaha mulai 900 ekor sudah dapat dikategorikan sebagai usaha intensif. Dalam pola pembiayaan ini, untuk analisa keuangan, skala usaha ditetapkan sejumlah 1.000 ekor dengan cara pengusahaan terbagi atas dua kategori yaitu pengusahaan mulai dari DOD dan pengusahaan mulai dari dara.

Berdasarkan SK Menteri Pertanian No. 362/Kpts/TN.120/5/1990 berisi tentang ketentuan dan tata cara pelaksanaan pemberian ijin dan pendaftaran usaha peternakan. Jika populasi ternak itik dalam suatu peternakan lebih dari 15.000 ekor, maka harus mengajukan ijin usaha peternakan.

Produksi telur itik utamanya tergantung pada bibit dan pemeliharaan (pemberian pakan khususnya). Dengan demikian perlu sekali mendapatkan bibit yang terjamin mutunya. Ketersediaan pakan yang terjamin berikut pemberiannya sesuai dengan jadwal dan dosis juga merupakan pangkal beberapa keberhasilan ternak itik petelur. Untuk mendapatkan itik petelur yang berkualitas dan mempunyai jaminan dapat dihubungi beberapa alamat yang ada pada
Lampiran 2.
 
ASPEK KEUANGAN
FLEKSIBILITAS PRODUK PEMBIAYAAN SYARIAH
Analisa aspek keuangan membantu pihak muhal atau shahibul maal (Lembaga Keuangan Syariah/LKS) memperoleh gambaran tentang prospek usaha yang akan dibiayai. Aspek keuangan juga dapat membantu pihak muhil atau mudharib (pengusaha) dalam mengelola dana pembiayaan untuk usaha bersangkutan.

Berbeda dengan produk pembiayaan konvensional yang hanya mengenal satu macam produk yaitu pembiayaan dengan sistem perhitungan suku bunga, pada pola syariah mempunyai keragaman produk pembiayaan dan perhitungan keuntungan (perolehan hasil) yang fleksibel.

Untuk produk syariah banyak ragamnya, diantaranya mudharabah, musyarakah, salam, istishna, ijarah dan murabahah (Lampiran 1). Dari produk tersebut, setiap produk juga masih mempunyai turunannya. Oleh karena itu, pada pola pembiayaan syariah satu usaha bisa memperoleh pembiayaan lebih dari satu macam produk.

Sedangkan untuk menghitung tingkat keuntungan yang diharapkan bisa menggunakan sistem margin atau nisbah bagi hasil. Margin merupakan selisih harga beli dengan harga jual sebagai besar keuntungan yang diharapkan. Nisbah bagi hasil adalah proporsi keuntungan yang diharapkan dari suatu usaha. Pada perhitungan nisbah bagi hasil dapat menggunakan metode bagi untung dan rugi (profit and loss sharing/PLS) atau metode bagi pendapatan (revenue sharing). Profit sharing, nisbah bagi hasil diperhitung- kan setelah dikurangi seluruh biaya (keuntungan bersih). Sementara revenue sharing perhitungan nisbah berbasis dari pendapatan usaha sebelum dikurangi biaya operasionalnya.

Keragaman produk pembiayaan dan perhitungan tingkat keuntungan ini dapat memberi keluwesan/fleksibilitas baik untuk pihak shahibul maal maupun mudharib untuk memilih produk pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan dan kapasitasnya masing-masing. Bagi pihak shahibul maal, pemilihan ini dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan dan tingkat resiko terhadap nasabah dan usahanya. Sehingga bisa terjadi untuk usaha yang sama, mendapat produk pembiayaan maupun besaran margin atau nisbah per nasabahnya berbeda.
 
ASPEK KEUANGAN
PEMILIHAN POLA USAHA
1. Karakteristik Usaha Peternakan Itik Petelur

Produk yang dipilih untuk usaha peternakan itik petelur adalah peternakan itik DOD (itik umur 1 hari) dan peternakan itik dara (itik umur 6 bulan). Pada proses produksi, itik tidak membutuhkan syarat yang spesifik untuk hidupnya. Itik petelur dapat hidup di hampir semua lingkungan sepanjang lingkungan tersebut tidak bising atau ramai, yang mana dapat mempengaruhi produksi telurnya. Usaha itik lebih mudah dilakukan daripada ayam, karena itik cenderung lebih tahan penyakit dan mudah dalam pemeliharaan dan pakannya. Berdasarkan hal tersebut, maka usaha ternak itik petelur memiliki propek untuk dikembangkan.

Sedangkan untuk pasar telur itik dijual dalam bentuk mentah atau olahan seperti telur asin. Permintaan telur itik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Peternak menjual produksinya ke pedagang pengumpul. Sejauh ini produksi telur hanya untuk memenuhi kebutuhan dalan negeri. Bahkan permintaan dalam jumlah besar oleh pasar swalayan belum mampu dipenuhi. Telur itik juga berpotensi untuk dipasarkan di luar negeri, tetapi sampai sekarang belum dijajagi karena keterbatasan produksi. Merujuk pada peluang pasar, maka usaha beternak itik menjadi pilihan usaha yang menguntungkan.

2. Pola Pembiayaan

Berdasarkan penjelasan dalam Aspek Teknis Produksi, dalam rangka mengkaji aspek keuangan untuk usaha peternakan itik petelur dipilih 2 kategori usaha, yaitu :

(1). Kategori-1 : usaha ternak itik petelur yang dimulai dari DOD, yaitu itik yang berusia satu hari.
(2). Kategori-2 : usaha ternak itik petelur yang dimulai dari dara, yaitu itik yang berusia 6 (enam) bulan.

Sedangkan merujuk pada sistem keuangan syariah yang mempunyai banyak ragam produk pembiayaan, maka pada aspek keuangan ini akan disajikan contoh produk pembiayaan dengan cara murabahah (jual beli) baik untuk pembiayaan investasi maupun untuk pembiayaan modal kerja, juga untuk pembiayaan usaha baru (start up) ataupun usaha yang sudah berjalan (running). Pertimbangannya adalah karena produk murabahah sudah banyak diterapkan dalam praktek oleh Lembaga Keuangan Syariah (LKS) dan masyarakat pemakai pun sudah mengenal serta mengakses pola pembiayaan tersebut.

Produk murabahah juga sebagai upaya untuk mitigasi resiko baik terhadap usaha maupun nasabah, karena pada produk pembiayaan ini margin secara pasti ditentukan diawal akad. Di samping itu, pembiayaan murabahah juga memberi pilihan pada bank maupun nasabah/pengusaha apakah pembiayaan akan digunakan untuk membiayai seluruh komponen usaha (biaya investasi dan modal kerja) atau hanya untuk komponen-komponen tertentu.

Pada contoh perhitungan, akan disampaikan pembiayaan untuk membeli komponen-komponen tertentu. Contoh yang disajikan terdiri dari dua jenis yaitu usaha yang sudah berjalan (running) dengan pembiayaan modal kerja untuk pengadaan pakan pada kategori I (DOD) dan usaha baru (start up) dengan pembiayaan investasi untuk pengadaan benih (itik) pada kategori II (dara).

Pengadaan pakan dan benih dalam hal ini diasumsikan sudah tersedia dan telah dimiliki oleh pihak LKS. Untuk usaha pengadaan tersebut, pihak LKS dapat menggunakan pihak lain dengan akad produk pembiayaan yang terpisah dari akad murabahah ini.

3. Produk Murabahah

Produk pembiayaan murabahah (jual beli) merupakan produk yang paling banyak dimanfaatkan baik oleh lembaga keuangan syariah maupun oleh nasabah. Untuk mengenal produk murabahah lebih jauh, berikut disampaikan penjelasan tentang produk murabahah yang diambil dari Himpunan Fatwa Dewan Syariah Nasional dan Peraturan Bank Indonesia No: 7/46/PBI/2005 tentang Akad Penghimpunan dan Penyaluran Dana bagi Bank yang melaksanakan Kegiatan Usaha Berdasarkan Prinsip Syariah.

Penyaluran dana dalam bentuk pembiayaan murabahah harus memenuhi rukun yaitu ada penjual (bai’), ada pembeli (musytari), obyek barang yang diperjual belikan jelas, harga (tsaman) dan ijab qabul (sighat).

Syarat-syarat yang berlaku pada murabahah antara lain:
  1. Harga yang disepakati adalah harga jual, sedangkan harga beli harus diberitahukan.
  2. Kesepakatan margin harus ditentukan satu kali pada awal akad dan tidak berubah selama periode akad.
  3. Jangka waktu pembayaran harga barang oleh nasabah ke bank /Lembaga Keuangan Syariah (LKS) berdasarkan kesepakatan.
  4. Bank dapat membiayai sebagian atau seluruh harga pembelian barang yang telah disepakati kualifikasinya.
  5. Dalam hal bank mewakilkan kepada nasabah (wakalah) untuk membeli barang, maka akad murabahah harus dilakukan setelah barang secara prinsip menjadi milik bank.
  6. Pembayaran secara murabahah dapat dilakukan secara tunai atau dengan cicilan.
  7. Bank dapat meminta nasabah untuk membayar uang muka (urbun) saat menandatangani kesepakatan awal pemesanan barang oleh nasabah. Dalam hal bank meminta nasabah untuk membayar uang muka maka berlaku ketentuan:
    • Jika nasabah menolak untuk membeli barang setelah membayar uang muka, maka biaya riil bank harus dibayar dari uang muka tersebut dan bank harus mengembalikan kelebihan uang muka kepada nasabah. Namun jika nilai uang muka kurang dari nilai kerugian yang ditanggung oleh bank, maka bank dapat meminta pembayaran sisa kerugiannya kepada nasabah,
    • Jika nasabah batal membeli barang, maka urbun yang telah dibayarkan nasabah menjadi milik bank maksimal sebesar kerugian yang ditanggung oleh bank akibat pembatalan tersebut. Jika urbun tidak mencukupi, nasabah wajib melunasi kekurangannya.
 
ASPEK KEUANGAN
ASUMSI DAN PARAMETER KEUANGAN
Untuk keperluan analisis aspek keuangan perlu ditetapkan asumsi dari masing-masing kategori tersebut. Asumsi meliputi jangka waktu (periode) proyek, umur itik, tingkat kehidupan, tenaga kerja dan parameter sarana produksi peternakan serta harga-harga masukan dan keluaran. Asumsi dan parameter yang ditetapkan merupakan dasar dalam perhitungan kebutuhan fisik dan biaya untuk investasi serta biaya operasional.

Pada Tabel 5.1 atau Lampiran 2.a disajikan asumsi dan parameter untuk kategori I (DOD), sedangkan tabel 5.2 atau Lampiran 2.b untuk kategori II (Dara), sebagaimana tersaji di bawah ini :

Tabel 5.1.
Asumsi dan Parameter Perhitungan Itik Petelur dari DOD (Kategori I)
No.
Asumsi
Satuan
Nilai
1
Periode Produksi
Bulan
30
2
Bangunan (kandang)
Rp/1000 ekor itik
2.000.000
3
Tenaga kerja
orang
4
4
Tenaga Ahli
orang
1
5
Harga jual



a. Telur per butir
Rp
600

b. Pupuk kandang (karung/ kg)
Rp
25

c. Itik tua per ekor
Rp
12.500
6
Pemeliharaan itik umur 1 hari
DOD
1.000
7
Itik mulai bertelur
Bulan
6

a. Itik umur 6-8 bulan
bertelur
1

b. Itik umur 8-24 bulan
bertelur
1

c. Itik umur 24-30 bulan
bertelur
1
8
Pakan



Alternatif I (konsentrat: Dedak = 1:4)
Rp/kg
1.150

Alternatif II (konsentrat: Dedak = 1:5)
Rp/kg
1.040

Alternatif III (konsentrat: Dedak = 2:3)
Rp/kg
715
9
Mortalitas

0
10
Lama hari dalam 1 bulan
hari
30
11
Rentang waktu jual-bayar
hari
10
12
Jangka waktu pembiayaan
Tahun
1
13
Tingkat margin pembiayaan
persen
0
Tabel 5.2.
Asumsi dan Parameter Perhitungan Itik Petelur dari Dara (Kategori II)

No.
Asumsi
Satuan
Nilai
1
Periode Produksi
Bulan
24
2
Bangunan (kandang)
Rp/1000 ekor itik
2.000.000
3
Tenaga kerja
orang
4
4
Tenaga Ahli
orang
1
5
Harga jual



a. Telur per butir
Rp
600

b. Pupuk kandang (karung/ kg)
Rp
25

c. Itik tua per ekor
Rp
12.500
6
Pemeliharaan itik umur 5 bulan 3 minggu
Dara
1.000
7
Itik mulai bertelur
Bulan
6

a. Itik umur 6-8 bulan
bertelur
50%

b. Itik umur 8-24 bulan
bertelur
75%

c. Itik umur 24-30 bulan
bertelur
50%
8
Pakan



Alternatif I (konsentrat: Dedak = 1:4)
Rp/kg
1.150

Alternatif II (konsentrat: Dedak = 1:5)
Rp/kg
1.040

Alternatif III (keong : Dedak = 2:3)
Rp/kg
715
9
Mortalitas

2%
10
Itik Dara Betina (5 bulan 3 minggu)
Rp/ekor
30.000
11
Lama hari dalam 1 bulan
hari
30
12
Rentang waktu jual-bayar
hari
10
13
Jangka waktu pembiayaan
Tahun
2
14
Tingkat margin pembiayaan
Persen
9%
 
ASPEK KEUANGAN
KOMPONEN BIAYA INVESTASI DAN BIAYA OPERASIONAL
1. Biaya investasi

Pada kategori I (Tabel 5.3 atau Lampiran 3.a), biaya investasi meliputi biaya sewa tanah, peralatan peternakan dan pembelian DOD. Jumlah seluruh biaya investasi pada awal proyek adalah Rp 7.925.000. Selama periode proyek ada investasi ulang (re-investasi) untuk biaya sewa tanah dan peralatan lainnya. Dari total biaya investasi kurang lebih 50% dipergunakan untuk pembelian DOD yaitu sebesar Rp. 4.500.000.
Tabel 5.3.
Biaya Investasi Usaha Peternakan Itik Petelur dari DOD (Kategori I)
No
Komponen Biaya
Spesifikasi Teknis
Jumlah Fisik
Harga
per Satuan
Rp
Total
Umur
Ekonomis
(th)
Nilai
Penyusutan
(Rp)
Nilai Sisa









1
Sewa rumah/tanah

1
375.000
375.000
1
375.000
-
2
Kandang
paket
1.000
2.000
2.000.000
5
400.000
1.600.000
3
Sumber air dan listrik
untuk sejumlah ekor
1.000
250
250.000
15
16.667
150.000
4
Peralatan penunjang lainnya
paket
1
250.000
250.000
15
16.667
150.000
5
DOD
100% betina umur 1 hr
1.000
4.500
4.500.000
2,5
1.800.000
-
6
Sekop
buah
5
20.000
100.000
5
20.000
80.000
7
Wadah pakan
buah
10
21.000
210.000
5
42.000
168.000
8
Tempat penampungan telur
paket
1
240.000
240.000
5
48.000
192.000










Jumlah



7.925.000

2.718.333
2.340.000
Pada kategori II (Tabel 5.4 atau Lampiran 3.b), biaya investasi meliputi biaya sewa tanah, peralatan peternakan dan pembelian Dara. Jumlah seluruh biaya investasi pada awal proyek adalah Rp 33.425.000. Selama periode proyek ada investasi ulang (re-investasi) untuk biaya sewa tanah dan peralatan lainnya. Dari total biaya investasi sekitar 90% dipergunakan untuk pembelian itik dara yaitu sebesar Rp. 30.000.000.

Tabel 5.4.
Biaya Investasi Usaha Peternakan Itik Petelur dari Dara (Kategori II)
No
Komponen Biaya
Spesifikasi
Teknis
Jumlah Fisik
Harga
per Satuan
Rp
Total
Umur
Ekonomis
(th)
Nilai
Penyusutan
(Rp)
Nilai Sisa









1
Sewa rumah/tanah

1
375.000
375.000
1
375.000
-
2
Kandang
paket
1.000
2.000
2.000.000
5
400.000
1.600.000
3
Sumber air dan listrik

1.000
250
250.000
15
16.667
150.000
4
Peralatan penunjang lainnya
paket
1
250.000
250.000
15
16.667
150.000
5
Dara
100% betina
umur 5 bln
1.000
30.000
30.000.000
2
15.000.000
12.000.000
6
Sekop
buah
5
20.000
100.000
5
20.000
80.000
7
Wadah pakan
buah
10
21.000
210.000
5
42.000
168.000
8
Tempat penampungan telur
paket
1
240.000
240.000
5
48.000
192.000










Jumlah



33.425.000

15.918.333
14.340.000

2. Biaya operasional


Biaya operasional dalam kategori I dan kategori II meliputi biaya pakan, obat-obatan dan biaya manajemen pemeliharaan. Tabel 5.5 atau Lampiran 5.a dan Tabel 5.6 atau Lampiran 5.b menyajikan biaya operasional untuk kedua kategori.

Tabel 5.5.
Biaya Operasional Usaha Peternakan Itik Petelur dari DOD (Kategori I)
No
Komponen Biaya
Spesifikasi
Teknis
Jumlah Fisik
Harga
per Satuan
Rp
Total
Biaya
operasi per
tahun No. 2-8
Biaya
Operasional
per tahun
Biaya
Operasional
Awal









1
Pakan








Umur: 0 - 6 bulan
gram/hari
19.060
1.040
19.822.400
-
19.822.400
19.822.400

Umur: 7 bulan
gram/hari
4.800
1.040
4.992.000
-
4.992.000
4.992.000

Umur:8 - 24 bulan (17 bln)
gram/hari
82.000
1.040
85.280.000
-
25.082.353
1.672.157

Umur: 25 - 30 bulan (6 bln)
gram/hari
29.000
1.040
30.160.000
-
-
-
2
Obat dan vaksin
ekor
1.000
1.500
1.500.000
600.000

316.667
3
Tenaga Kerja
orang
4
300.000
36.000.000
14.400.000

7.600.000
4
Tenaga ahli (koordinator)
orang
1
500.000
15.000.000
6.000.000

3.166.667
5
Keranjang telur dan transport
ekor
1.000
4.500
4.500.000
1.800.000

950.000
6
Air dan listrik
bulan
30
30.000
900.000
360.000

190.000
7
Penunjang produksi
ekor
1.000
300
300.000
120.000

63.333
8
Pemeliharaan dan perbaikan
ekor
1000
1.000
1.000.000
400.000

211.111







49.896.753


Jumlah



199.454.400
23.680.000
73.576.753
38.984.335


Catatan:








1 minggu
7
hari






1 bulan
30
hari






Umur 0 - 1 minggu
7
hari






Umur 1mg - 1 bln
23
hari






Umur 1 - 6 bulan
150
hari






Umur 6 - 30 bulan
720
hari






1 tahun hari (tahun1)
180
hari






Masa kerja
30
bulan
2,5
(tahun)




1 tahun
12
bulan






1 tahun
360
hari






Periode jual-bayar
10
hari






Tabel 5.6.
Biaya Operasional Usaha Peternakan Itik Petelur dari Dara (Kategori II)
No
Komponen Biaya
Spesifikasi Teknis
Jumlah Fisik
Harga
per Satuan
Rp
Total
Biaya
Operasi per
tahun No. 2-8
Biaya
Operasional
per tahun
Jumlah
Nilai
Rp









1
Pakan 6 - 30 bulan
gram/ekor
/hari
160
1.040
119.808.000
-
59.904.000
1.664.000
2
Obat dan vaksin
ekor
1.000
1.500
1.500.000
750.000


3
Tenaga Kerja
orang
4
300.000
28.800.000
14.400.000


4
Tenaga ahli (koordinator)
orang
1
500.000
12.000.000
6.000.000


5
Keranjang telur dan transport
ekor
1.000
4.500
4.500.000
2.250.000


6
Air dan listrik
bulan
30
30.000
900.000
450.000


7
Penunjang produksi
ekor
1.000
300
300.000
150.000


8
Pemeliharaan dan perbaikan
ekor
1000
1.000
1.000.000
500.000









59.904.000


Jumlah



168.808.000
24.500.000
84.404.000
1.664.000


Catatan:








1 minggu
7
hari






1 bulan
30
hari






Masa kerja
24
bulan
2





1 tahun
12
bulan






1 tahun
360
hari






Umur Itik
720
hari






Periode jual-bayar
10
hari






Modal kerja = biaya operasi per 10 hari (=(total biaya/360)*10)





Jadi modal kerja 10 hr =
1.664.000
rupiah





 
ASPEK KEUANGAN
KEBUTUHAN DANA INVESTASI DAN MODAL KERJA
Dalam Lending Model ini diasumsikan bahwa baik dana investasi maupun modal kerja bersumber dari pembiayaan lembaga keuangan syariah dan dana sendiri. Berdasarkan asumsi tersebut komposisi pembiayaan untuk investasi dan modal kerja adalah seperti pada Tabel 5.7.

Tabel 5.7.
Komponen dan Struktur Biaya Proyek Kategori I dan Kategori II
No
Komponen Biaya Proyek
Ternak Itik Petelur
Kategori I/DOD
(usaha berjalan)
Kategori II/Dara
(usaha baru)
1.
Biaya Investasi
7.925.000
33.425.000
a. Pembiayaan
0
30.000.000
b. Dana sendiri
7.925.000
3.425.000
2.
Biaya Modal Kerja
38.984.335
1.664.000
a. Pembiayaan
26.486.557
0
b. Dana sendiri
12.497.778
1.664.000
3.
Total Biaya Proyek
46.909.335
35.089.000
a. Pembiayaan
26.486.557
30.000.000
b. Dana sendiri
20.422.778
5.089.000
Untuk kebutuhan dana investasi, pada contoh perhitungan kategori I (DOD) semua biaya investasi diasumsikan sudah dimiliki oleh pengusaha sehingga tidak membutuhkan pembiayaan dari bank/LKS. Sedangkan kebutuhan biaya modal kerja (operasional) untuk contoh perhitungan, pembiayaan dari perbankan/LKS hanya untuk pembeliaan pakan, kebutuhan komponen-komponen biaya operasional yang lainnya juga diasumsikan sebagai bagian dari kontribusi pengusaha yang bersangkutan.

Untuk kategori II (Dara), kebutuhan biaya investasi yang dibiayai oleh LKS/perbankan syariah hanya untuk pembelian itik dara, komponen yang lainnya diasumsikan telah dimiliki oleh pengusaha yang bersangkutan sebagai bagian dari kontribusinya dalam usaha (self financing). Sedangkan untuk kebutuhan biaya operasional diasumsikan disediakan seluruhnya oleh pengusaha yang bersangkutan.

Pembayaran angsuran pembiayaan dalam perhitungan kelayakan diasumsikan secara tetap, caranya jumlah pembiayaan dibagi lama waktu pembiayaan dengan mempertimbangkan siklus produksinya.
 
ASPEK KEUANGAN
PROYEKSI PRODUKSI DAN PENDAPATAN
Hasil usaha peternakan itik petelur adalah telur itik mentah. Secara rata-rata dengan seekor itik akan menghasilkan telur itik mentah untuk kategori I (DOD) sebanyak 195 butir dan untuk kategori II (dara) sebanyak 244 butir. Pada contoh perhitungan kapasitas itik yang diperlihara adalah 1000 ekor. Harga telur mentah per butir diasumsikan sebesar Rp. 600. Masa produksi telur itik diasumsikan selama 30 bulan dan setiap akhir masa produksi telur maka itik tua dapat dijual dengan harga Rp. 12.500 per ekor. Selain itu, kotoran itik juga dapat diolah menjadi kompos. Kompos ini dijual dengan harga Rp. 25 per kg. Jadi pendapatan dari berternak itik petelur ini diperoleh dari hasil telur itik mentah (sumber penghasilan utama), penjualan itik tua dan kompos.. Selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 4a, Lampiran 6.a untuk kategori I (DOD) dan Lampiran 4.b, Lampiran 6.b untuk kategori II (Dara).
 
ASPEK KEUANGAN
PROYEKSI RUGI LABA USAHA
Hasil proyeksi rugi laba menunjukkan bahwa usaha peternakan itik petelur kategori I (DOD) pada tahun keempat mengalami kerugian, ini karena pada tahun tersebut terjadi peremajaan itik. Tetapi kerugian tersebut dapat ditutup dari keuntungan hasil penjualan komulatif pada tahun-tahun yang menguntungkan, bahkan pada tahun pertama besar keuntungan yang diperoleh sudah mencapai Rp. 15.504.345 dengan tingkat margin keuntungan 26,64%.

Pada kategori II (dara) sejak tahun pertama sudah membubuhkan keuntungan sebesar Rp. 32.346.325 dengan tingkat margin keuntungan 22,67%. Hal ini karena pada kategori II, itik yang dipelihara sudah memasuki umur produksi telur yaitu 6 bulan. Selengkapnya proyeksi laba rugi usaha peternakan itik petelur ini dapat dilihat pada
Lampiran 7.a untuk kategori I dan Lampiran 7.b untuk kategori II.
 
ASPEK KEUANGAN
PROYEKSI ARUS KAS DAN KELAYAKAN PROYEK
Untuk aliran kas (cash flow) dalam perhitungan ini dibagi dalam dua aliran, yaitu arus masuk (cash inflow) dan arus keluar (cash outflow). Arus masuk diperoleh dari penjualan telur itik mentah, itik tua dan kompos. Untuk arus keluar meliputi biaya investasi, biaya operasional, juga termasuk angsuran pembiayaan dan pajak penghasilan.

Evaluasi kelayakan untuk usaha peternakan itik petelur baik kategori I (DOD) dan kategori II (dara) dengan pembiayaan murabahah dapat diukur dari tingkat kemampuan membayar kewajiban kepada bank (shahibul maal). Hal ini dapat diketahui karena pada produk murabahah besarnya margin sudah ditentukan di awal akad, sehingga pada analisa laba rugi dan arus kas dapat dihitung kemampuan membayar berdasarkan dari pendapatan yang diperoleh usaha tersebut. Dari arus kas diketahui bahwa pada tingkat margin 10 % p.a untuk kategori I (DOD) dan 14 % p.a untuk kategori II (dara) usaha ini mampu membayar kewajiban pembiayaannya dan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian usaha peternakan itik petelur kedua kategori tersebut layak untuk dilaksanakan dan bisa dipertimbangkan untuk memperoleh pembiayaan.

Pada analisa kelayakan dapat juga memakai beberapa indikator yang umum digunakan pada perhitungan konvensional. Indikator tersebut meliputi IRR (Internal Rate of Return), Net B/C Ratio (Net Benefit-Cost Ratio), PBP (Pay Back Period). Nilai IRR bisa menjadi indikator untuk mengukur kelayakan usaha, semakin tinggi nilai IRR maka usaha tersebut semakin berpeluang untuk menciptakan keuntungan. Meskipun demikian, indikator tersebut hanya sebagai alat bantu untuk menilai kelayakan suatu usaha. Besaran margin ataupun bagi hasil, harus ditetapkan atas dasar kesepakatan kedua belah pihak (shahibul maal dan mudharib).

Proyeksi arus kas untuk kelayakan usaha peternakan itik petelur selengkapnya ditampilkan pada Lampiran 8.a untuk kategori I dan Lampiran 8.b untuk kategori II.
 
ASPEK KEUANGAN
PEROLEHAN MARGIN
Pola pembiayaan syariah yang digunakan dalam usaha peternakan itik petelur adalah murabahah (jual beli). Pada kesempatan ini ditampilkan dua contoh alternatif pembiayaan yaitu usaha yang sudah berjalan (running) dan untuk usaha baru (start up). Dari hasil perhitungan untuk tingkat margin sebesar 10% per tahun, untuk kategori I (DOD) selama satu tahun waktu pembiayaan menghasilkan margin sebesar Rp.2.648.656. Pada kategori II dengan tingkat margin sebesar 14% dalam jangka waktu satu tahun mampu membubuhkan margin sebesar Rp. 4.200.000. Tingkat margin ini diberlakukan flat (tetap) per tahun, selama waktu pembiayaan yang disepakati. Selengkapnya, perhitungan perolehan margin dapat dilihat pada Lampiran 9.a untuk kategori I dan Lampiran 9.b untuk kategori II.

Penentuan besaran margin, diutamakan berdasarkan pada base line data (data rujukan) untuk setiap komponen usaha / sektor ekonomi. Tetapi karena pada saat ini data tersebut belum tersedia, maka nilai margin mempertimbangkan informasi yang diperoleh dari praktek umum yang diterapkan oleh perbankan syariah dan kesetaraan dengan suku bunga Bank Indonesia (SBI). Data pola pembiayaan pada perbankan syariah dapat dilihat pada Lampiran 10.
 
ASPEK SOSIAL EKONOMI
Usaha ternak itik petelur adalah merupakan usaha yang berbasis sumberdaya lokal. Usaha yang berbasis sumberdaya lokal tentu saja akan mampu menjadi sektor yang tangguh, karena tidak tergantung pada pasokan dari luar, baik pasokan dari propinsi lain dan bahkan negara asing.

Dalam pelaksanaan usaha ternak itik petelur, meskipun tenaga kerja yang dibutuhkan relatif kecil, namun seluruh kebutuhan tenaga kerja tersebut dapat dipenuhi dari dalam daerah itu sendiri. Dengan demikian, usaha ternak itik petelur mempunyai potensi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat. Hal ini mengingat pelaksanaan usaha peternak itik petelur memerlukan teknologi yang sederhana, sehingga persyaratan rekruitmen tenaga kerja menjadi lebih mudah.

Pengusahaan ternak itik petelur bila dilaksanakan dengan cara semi intensif dapat memberikan pendapatan bagi masyarakat yang sangat nyata, apalagi jika diusahakan dengan cara intensif. Sebagai contoh, pada Bab 5 dalam buku ini, diperlihatkan contoh analisis finansial untuk pengusahaan semi intensif dan intensif. Pengelolaan itik petelur cara kategori I akan menghasilkan pendapatan bersih rata-rata per tahun sebesar Rp 14.383.732, sedangkan kategori II menghasilkan pendapatan rata-rata per tahun sebesar Rp 61.831.943. Dilihat dari besarnya pendapatan bersih tersebut dapat disimpulkan bahwa pengusahaan ternak itik petelur mampu memberikan pendapatan yang relatif besar.

Usaha ternak itik petelur juga mempunyai potensi untuk menyumbangkan pajak baik bagi pemerintah daerah maupun pemerintah pusat. Pajak bagi pemerintah daerah berupa Pajak Bumi dan Bangunan dan pungutan lain sehubungan dengan pelaksanaan kegiatan usaha ternak, khususnya bagi peternak itik petelur yang diusahakan dengan cara intensif.

Pelaksanaan usaha ternak itik petelur adalah merupakan suatu usaha yang mempunyai keterkaitan dengan sektor hulu dan hilir yang sangat erat. Hal ini mengingat dalam agribisnis perunggasan, usaha itik petelur merupakan salah satu sub-sistem yang sangat berkaitan erat dengan sub-sistem lainnya. Dalam pendekatan sistem, agribisnis perunggasan (usaha peternak itik petelur khususnya) sekurang-kurangnya terdiri dari sub-sistem: penyediaan sarana produksi (bibit, pakan, obat-obatan, dan kandang), budidaya ternak (itik petelur), pengolahan (telur itik menjadi telur asin, telur beku dan tepung telur), pemasaran, dan kebijakan pemerintah (misalnya penyediaan kredit dan pembangunan sarana dan prasarana perekonomian yang menunjang pengusahaan itik petelur). Dengan demikian, pengusahaan ternak itik petelur akan meningkatkan kebutuhan pada bibit (anak itik, yang disebut juga DOD), pakan, industri pengolahan telur, para pedagang telur, dan juga penyedia jasa permodalan. Dapat juga dikatakan usaha ternak itik petelur mempunyai keterkaitan erat antara industri hulu dan hilirnya.

Berdasarkan studi pustaka selama ini, Indonesia belum pernah mengekspor telur segar dan olahan. Potensi pasar ekspor telur utama adalah ke Jepang, Hongkong dan Singapura. Selama ini pemasok utama bagi ketiga negara tersebut adalah Taiwan, Thailand dan Malaysia. Indonesia belum menggarap pasar ekspor mengingat selama ini pemasaran telur itik di dalam negeri masih mampu menyerap produksi yang dihasilkan oleh peternak (Suharno dan Amri, 2000 dan Windhyarti, 2000).

Berdasarkan uraian di atas, dampak yang dihasilkan dari usaha peternak itik petelur baik dari segi ekonomi maupun sosial adalah positif. Lebih lanjut, mengingat keterkaitan antar subsistem dalam pengusahaan ini sangat erat, maka perkembangan usaha ternak itik petelur ini akan mampu menggerakkan industri hulu dan hilir secara nyata.
 KESIMPULAN
SARAN
Ketersediaan pakan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam usaha ternak itik petelur. Penentu keberhasilan usaha ternak itik petelur adalah pemilikan bibit (baik DOD maupun itik dara), oleh karena itu peternak perlu untuk mendapatkan informasi pembibitan itik berkualitas tinggi, seperti dari Balai Penelitian Ternak di Bogor serta Dinas Peternakan setempat. Disarankan agar peternak dapat diberikan keterampilan cara-cara pembuatan pakan dengan mempergunakan bahan baku yang tersedia di daerah itu. Hal ini untuk lebih meningkatkan kesempatan kerja bagi masyarakat setempat dan juga untuk lebih menjamin kontinuitas ketersediaan pakan.

Meskipun hingga saat ini usaha ternak itik petelur belum memerlukan pengobatan seperti pada usaha ternak ayam ras, namun ada baiknya untuk memperhatikan hal ini. Langkah yang disarankan adalah dengan menyediakan biaya untuk pengobatan dan memeriksa secara rutin keadaan kesehatan itik.


























































































































































































Tidak ada komentar:

Poskan Komentar